KONTROVERSI HUKUMAN KEBIRI KIMIA DAN PEMASANGAN ALAT PENDETEKSI ELEKTRONIK

 In Articles

Laurences Aulina

Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 70 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Alat Pendeteksi Elektronik, Rehabilitasi, dan Pengumuman Identitas Pelaku Kekerasan Seksual terhadap Anak diterbitkan pada 7 Desember 2020 lalu oleh Presiden Joko Widodo.

Peraturan ini merupakan jawaban atas kegelisahan masyarakat atas Tindak Pidana Kekerasan Seksual pada Anak dan dianggap sebagai hukum pemberat. Diharapkan dengan terbitnya PP ini dapat mengatasi kekerasan seksual terhadap anak, memberi efek jera terhadap pelaku, dan mencegah terjadinya kekerasan seksual terhadap anak.

Tindakan Kebiri Kimia

Tindakan Kebiri Kimia adalah pemberian zat kimia melalui penyuntikan atau metode lain, yang dilakukan kepada pelaku yang pernah dipidana karena melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa Anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain, sehingga menimbulkan korban lebih dari 1 (satu) orang, mengakibatkan luka berat, gangguan jiwa, penyakit menular, terganggu atau hilangnya fungsi reproduksi, dan/atau korban meninggal dunia, untuk menekan hasrat seksual berlebih, yang disertai rehabilitasi.

Tindakan kebiri kimia dikenakan untuk jangka waktu paling lama dua tahun, dan dilakukan melalui tiga tahapan yaitu penilaian klinis, kesimpulan, dan pelaksanaan. Pelaksanaan tindakan kebiri kimia dilakukan setelah ada kesimpulan penilaian klinis yang menyatakan pelaku layak untuk dikenakan tindakan ini.

Dalam Pasal 10 ayat (1) PP No. 70 Tahun 2020 disebutkan, bila kesimpulan menyatakan pelaku tidak layak untuk dikenakan tindakan kebiri kimia maka pelaksanaan tindakan ditunda paling lama enam bulan. “Selama masa penundaan sebagaimana dimaksud dilakukan penilaian klinis ulang dan kesimpulan ulang untuk memastikan layak atau tidak layak dikenakan tindakan kebiri kimia,” bunyi Pasal 10 ayat (2).

Jika masih disimpulkan pelaku persetubuhan tidak layak, maka jaksa memberitahukan secara tertulis kepada pengadilan yang memutus perkara pada tingkat pertama dengan melampirkan hasil penilaian klinis ulang dan kesimpulan ulang.

Pemasangan Alat Pendeteksi Elektronik

Disebutkan pada Pasal 15 PP No. 70 Tahun 2020 bahwa alat pendeteksi elektronik dalam bentuk gelang elektronik atau lainnya yang sejenis dengan waktu paling lama 2 tahun. Pemasangan dilakukan segera setelah pelaku menjalani pidana pokoknya. Tindakan pemasangan alat pendeteksi elektronik dikenakan kepada pelaku persetubuhan dan perbuatan cabul.

Kontroversi

Indonesia bukan satu-satunya negara yang melegalkan hukuman kebiri kimia bagi pelaku kejahatan seksual. Denmark, Jerman, dan Swedia termasuk negara-negara pertama yang memperbolehkan hukuman kebiri kimia. Beberapa negara Eropa lain, seperti Perancis, Britania Raya, dan Polandia, serta beberapa negara bagian Amerika Serikat juga memiliki peraturan serupa.

Seperti yang tertuang pada PP No. 70/2020, kebiri kimia di Indonesia bersifat mandat, bukan sukarela. Hukuman ini dilaksanakan berdasarkan putusan pengadilan setelah terpidana diperiksa secara klinis dan dinyatakan layak untuk dikenai tindakan kebiri kimia.

Di beberapa negara, terpidana dapat memilih untuk menerima kebiri kimia dengan imbalan pengurangan masa tahanan. Peraturan ini juga diperdebatkan karena, dengan adanya ancaman hukuman, individu tidak benar-benar dapat bebas memilih atau menolak tindakan kebiri kimia.

Menurut beberapa pendapat ahli, tindakan kebiri kimia tidak akan efektif jika motif pelaku kejahatan dikarenakan faktor psikologis, bukan dorongan libido atau hormon dalam tubuhnya. Pada umumnya, pelaku kekerasan seksuan terhadap anak sering kali disebut sebagai Pedofilia. Perlu diketahui bahwa terdapat perbedaan antara Kejahatan Pedofilia dan Gangguan Pedofilia. Gangguan Pedofilia adalah gangguan mental yang ditandai dengan ketertarikan dan hasrat seksual terhadap anak usia prapubertas. Individu dengan gangguan ini kesulitan dalam mengendalikan hasrat seksualnya sehingga kebiri kimia dianggap sebagai langkah yang tepat untuk menurunkan dorongan seksual dan mencegah terulangnya kejahatan seksual.

Meskipun banyak pelaku tindak kekerasan seksual terhadap anak yang mengalami gangguan ini, namun tidak semua demikian. Oleh karena itu, kebiri kimia tidak dapat diterapkan terhadap semua pelaku kekerasan seksual terhadap anak.

Recent Posts

Send this to a friend