WARIS BARAT DAN WARIS ISLAM

 In Articles

Fabian Falisha

Terdapat permasalahan yang kerap terjadi di Indonesia yaitu mengenai pembagian hak waris dari pewaris (almarhum) kepada ahli waris, baik dari aspek keadilan atau aspek keyakinan atas pembagian harta dari pewaris tersebut. Pemilihan sistem hukum waris yang berlaku di Indonesia, mempunyai aturan dan ketentuan masing-masing, yaitu Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Hukum Adat dan Hukum Islam.

Terdapat tiga sistem hukum waris yang berlaku di Indonesia yaitu:

  1. Sistem Hukum Waris Perdata Barat, yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Indonesia (selanjutnya disebut “Waris Barat”), dan berlaku untuk golongan keturunan Tionghua dan Timur Asing. Secara garis besar Waris Barat berlaku bagi Warga Negara Indonesia yang beragama selain Islam atau bagi yang beragama Islam tetapi “menundukan” diri ke dalam hukum perwarisan perdata barat.
  2. Sistem Hukum Waris Adat, yang diatur berdasarkan hukum adat pada masing-masing daerah. Berlaku bagi masyarakat pribumi yang terdiam dan menundukan diri di wilayah hukum adat tersebut.
  3. Sistem Hukum Waris Islam (selanjutnya disebut “Waris Islam”) yang berlaku bagi Warga Negara Indonesia yang beragama Islam.

Hukum kewarisan menurut Kompilasi Hukum Islam Buku II, adalah “hukum yang mengatur tentang pemindahan hak pemilikan harta peninggalan (tirkah) pewaris, menentukan siapa-siapa yang berhak menjadi ahli waris dan berapa bagiannya masing-masing”.

Prinsip Pewarisan berlaku apabila terjadi peristiwa kematian dan adanya hubungan darah di antara pewaris dan ahli waris, kecuali untuk suami dan istri pewaris.

Berdasarkan hal tersebut, penulis akan membahas lebih detail mengenai Waris Barat dan Waris Islam yang berlaku di Indonesia.

Waris Barat

Terdapat 4 (empat) golongan besar yang berhak mewarisi menurut Waris Barat, yaitu:

  1. Golongan I : Suami/Isteri yang hidup terlama dan anak/keturunannya (Pasal 852 BW). Termasuk anak diluar kawin yang diakui secara sah dan isteri kedua dan seterusnya.
  2. Golongan II : Orangtua dan saudara kandung pewaris.
  3. Golongan III : Keluarga dalam garis lurus ke atas sesudah bapak dan ibu pewaris.
  4. Golongan IV : Paman dan bibi pewaris baik dari pihak bapak maupun dari pihak ibu, yaitu: Keturunan paman dan bibi sampai derajat keenam dihitung dari pewaris; atau saudara kakek dan nenek beserta keturunannya, sampai derajat keenam dihitung dari
    pewaris

Pembagian golongan tersebut di atas menunjukan urutan para ahli waris yang didahulukan, artinya ahli waris golongan II tidak bisa mendapatkan hak waris jika ahli waris golongan I masih ada, artinya jika masih ada anak kandung atau keturunanya, maka orang tua dan saudara kandung tidak berhak atas hak waris demikian seterusnya dengan penjelasan yang sama atas golongan III dan golongan IV.

Terdapat salah satu prinsip dalam pembagian harta waris yaitu mengenai Perjanjian Pranikah/Pascamenikah yang mengatur pemisahan harta masing-masing, sehingga dengan demikian tidak ada percampuran/persatuan harta suami dan isteri yang menyebabkan harta suami dan harta isteri dapat dibedakan.

Contoh Kasus I:

Indra memiliki seorang isteri bernama Syifa dan 3 orang anak, yaitu Eric, Farah dan Randy.

  • Merujuk kasus I, Indra dan Syifa menikah dan telah membuat Perjanjian Pranikah/Pascamenikah sehingga, jika Indra meninggal pembagian akan sebagai berikut:
  1. Syifa 1/4.
  2. Eric 1/4.
  3. Farah 1/4.
  4. Randy 1/4.

Note : Pembagian harta Indra sebagai pewaris akan dibagi secara rata ke seluruh ahli waris.

  • Merujuk kasus I, Indra dan Syifa menikah tidak membuat Perjanjian Pranikah/Pascamenikah sehingga, jika Indra meninggal pembagian akan sebagai berikut;
  1. Syifa 1/2 + (1/2 x 1/4)

= 1/2 + 1/8 = 5/8

  1. Eric 1/8.
  2. Farah 1/8.
  3. Randy 1/8.

Note : Harta gono gini (harta bersama) harus dibagi dua terlebih dahulu (kloving) ke Syifa.

Terdapat prinsip lainnya mengenai pembagian harta waris yaitu mengenai Penggantian Kedudukan Ahli Waris Lain (Bijplaatsvervulling) yaitu pewarisan dengan cara menggantikan kedudukan dari ahli waris oleh keturunan langsung dari orang yang digantikan dalam garis lurus ke bawah sampai derajat yang tidak dibatasi jika ahli waris telah meninggal dunia terlebih dahulu daripada pewaris atau telah meninggal dunia pada saat warisan dibagikan.

Terdapat prinsip lainnya mengenai pembagian harta waris yaitu mengenai hak ahli waris yang masih dalam kandungan mempunyak hak sebagai ahli waris bersama dengan suami/isteri yang hidup terlama (golongan I).

Waris Islam

Menurut Kompilasi Hukum Islam Pasal 171, syarat menjadi ahli waris adalah sebagai berikut:

  1. Memiliki hubungan darah
  2. Ada hubungan perkawinan
  3. Beragama Islam
  4. Tidak terhalang karena hukum untuk menjadi ahli waris

Berbeda dengan sistem Waris Barat, Waris Islam memiliki prinsip bahwa anak laki-laki (LK) mendapat bagian yang lebih besar dari pada anak perempuan (PR).

Para ahli waris dalam Waris Islam dibedakan atas:

  1. Dzulfaraid, yaitu ahli waris yang menerima bagian pasti (sudah ditentukan bagiannya) misalnya, ayah sudah pasti menerima sebesar 1/3 bagian jika pewaris tidak memiliki anak; atau 1/6 bagian jika pewaris memiliki anak. Artinya bagian para ahli waris dzulfaraid inilah yang dikeluarkan terlebih dahulu dalam perhitungan pembagian warisan. Setelah bagian para ahli waris dzulfaraid ini dikeluarkan, sisanya baru dibagikan kepada ahli waris yang menerima bagian sisa (ashabah), seperti anak pewaris dalam hal anak pewaris terdiri dari LK dan PR.

 

BAGIAN AHLI WARIS DZUL FARAIDH
Bagian 1/2 (jika pewaris tidak punya anak) 1.       Suami = syarat: tidak ada keturunan pewaris dari pihak LK

2.       Anak PR = Syarat: Anak Tunggal

3.       Cucu PR dari LK = Syarat: Sendirian

4.       Saudara kandung LK = Syarat: tidak ada saudara (sendirian)

5.       Saudara PR seayah (Ukhtun Liah)= Syarat: sendirian

 

Bagian 1/4 1.       Suami = Jika pewaris punya anak

2.       Isteri = Jika pewaris tidak punya anak

Bagian 1/8 Hanya isteri

Syarat:

·        Jika punya anak;

·        Jika isteri lebih dari 1 maka Syirkah

Bagian 2/3 1.       2 anak PR/lebih = syarat: tidak ada anak LK

2.       2 cucu PR/lebih dari jalur LK =

syarat:

·        tidak ada anak pewaris yang masih hidup

·        tidak mewaris bersama cucu LK

3.        2 saudara kandung PR (Ukhtun Aqiqah)

syarat:

·        tidak ada ayah/kakek

·        tidak mewaris bersama saudara LK pewaris

4.       2 atau lebih saudara PR seayah

syarat:

·        tidak ada ayah/kakek

·        tidak mewaris bersama saudara kandung LK/PR

Bagian 1/3 1.       Ibu

Syarat:

·        Tidak ada anak/cucu LK dari keturunan anak LK

·        Tidak ada 2 saudara atau lebih baik saudara kandung maupun saudara seayah atau seibu

2.       Saudara LK dan PR seibu 2 orang/lebih

Syarat:

·        Tidak ada anak (LK/PR)

·        Tidak ada ayah/kakak

·        Jumlah saudara 2 orang/lebih

Bagian 1/6 1.       Ayah = jika pewaris punya anak

2.       Ibu

Syarat:

·        Jika pewaris punya anak LK/PR/cucu LK dari keturunan LK

·        2 orang saudara atau lebih

3.       Nenek = dari ibu/bapak jika pewaris tidak punya ibu

4.       Cucu wanita keturunan anak LK = jumlahnya 1 orang/lebih

5.       Saudara PR seayah

6.       Saudara PR/LK seibu

  1. Dzulqarabat (ashabah), yaitu para ahli waris yang mendapatkan bagian yang tidak tertentu, mereka memperoleh warisan sisa setelah bagian para ahli waris dzulfaraid tersebut dikeluarkan.
BAGIAN AHLI WARIS DZULQARABAT (ASHABAH)
Ashabah Binafsih (keturunan LK tanpa dicampuri keturunan PR) 1.       Arah anak = seluruh LK keturunan anak LK

2.       Arah bapak = ayah, kakek, dst

3.       Arah saudara LK = saudara LK seayah, saudara kandung LK dan keturunannya

4.       Arah Paman = paman kandung, paman seayah dan keturunannya

Ashabah Bil Ghairi (semuanya wanita) 1.       Anak PR = jika bersama saudara LK

2.       Cucu PR keturunan LK = jika dengan cucu LK atau anak LK paman

3.       Saudara kandung PR = jika dengan saudara LK

4.       Saudara PR seayah = jika dengan saudara LK

Ashabah Ma’al Ghairi Saudara PR kandung/seayah = jika bersama anak PR dan pewaris tidak ada anak LK

 

  1. Dzul-arham, yaitu merupakan kerabat jauh yang baru tampil sebagai ahli waris jika tidak ada ahli waris dzulfaraid dan

Contoh Kasus II:

Ahli waris Amir adalah ayah dan ibu Amir, serta isteri dan 3 orang anak Amir, yaitu Ahmad, Anita, dan Anisa sehingga pembagiannya sebagai berikut:[1]

  • Ayah, ibu serta isteri Amir merupakah ahli waris dzulfraidh, yang bagiannya sudah ditentukan. Oleh karena Amir memiliki anak, bagian ayah dan ibu Amir adalah 1/6 serta isteri Amir mendapatkan 1/8 bagian.
  • Sisanya diberikan kepada anak-anak amir, sebagai ahli waris Ashabah, dengan sistem pembagian : anak LK 2 kali lebih besar daripada anak PR dengan perbandingan = 2:1

Bagian dari harta bersama Amir dan isterinya dikeluarkan lebih dahulu, yaitu sebanyak 1/2.[2] Sedangkan, 1/2 bagiannya akan dibagikan.

Untuk mepermudah perhitungan, sisa harta setelah dikeluarkan bagian harta bersama kita anggap 1 bagian. Dengan demikian:

  • Ayah dan ibu masing-masing mendapatkan 1/6 bagian, atau 4/24 bagian atau 16/96
  • Isteri mendapatkan 1/8 bagian, atau 3/24 bagian, atau 12/96
  • Sisanya yaitu : 24/24 – (4/24 + 4/24 + 3/24) = 24/24 – 11/24 = 13/24
  • Ahmad, Anita dan Anisa dengan perbandingan = 2:1:1

Bagian Ahmad = 2/4 x 13/24 = 26/96

Bagian Anita = 1/4 x 13/24 = 13/96

Bagian Anisa = 1/4 x 13/24 = 13/96

  • Sehingga bagian Ayah + Ibu + Isteri + Ahmad + Anita + Anisa

= 16/96 + 16/96 + 12/96 + 26/96 + 13/96 + 13/96 = 1

 

Contoh Kasus III:

Pak Abdullah memiliki 4 orang isteri yang dinikahi secara sah, yaitu Aminah, Aisyah, Amira dan Alina. Selain 4 orang isteri tersebut, pak Abdullah meninggalkan 5 orang anak: 1 anak LK dan 4 anak PR. Pak Abdullah anak tunggal dan kedua orangtuanya telah meninggal dunia.

Sehingga perhitungan pembagian akan menjadi sebagai berikut:

  • 4 orang isteri pak Abdullah merupakah ahli waris dzulfraidh, yang bagiannya sudah ditentukan atau mendapatkan 1/8 bagian.
  • Sisanya diberikan kepada anak-anak pak Abdullah, sebagai ahli waris Ashabah, dengan sistem pembagian : anak LK 2 kali lebih besar daripada anak PR dengan perbandingan = 2:1

4 orang isteri pak Abdullah berhak atas 1/2 bagian terlebih dulu atas total harta gono-gini (syirkah) mereka dalam perkawinan. Setelah dikeluarkan 1/2 akan dibagikan keseluruh ahli waris sesuai aturan.

Untuk mepermudah perhitungan, sisa harta setelah dikeluarkan bagian harta bersama kita anggap 1 bagian. Dengan demikian:

  • Isteri mendapatkan 1/8 bagian sehingga untuk 4 isteri = 1/8 x 1/4 = 1/32

1/8 = 6/48

(1/8 dibagi 4 isteri)

  • Sisanya yaitu = 7/8

Perbandingan untuk 5 orang anak dengan 1 LK dan 4 PR = 2:1:1:1:1

Bagian anak LK = 2/6 x 7/8 = 14/48

Bagian masing –masing anak PR = 1/6 x 7/8 = 7/48

Terdapat persamaan dengan Waris Barat mengenai pengganti ahli waris (Bijplaatsvervulling) sebagaimana tertuang dalam Kompilasi Hukum Islam Pasal 185 ayat 1 menyatakan “Seorang ahli waris yang meninggal lebih dahulu daripada pewaris dapat digantikan kedudukannya oleh anaknya, kecuali mereka yang terhalang menjadi ahli waris”.

KESIMPULAN

  • Terdapat prinsip-prinsip dalam Waris Barat yaitu:
    1. Jika terdapat perjanjian pranikah/pascanikah pembagian harta waris kepada ahli waris dibagi secara rata, namun jika tidak ada perjanjian pranikah/pascanikah, pembagian harus dibagi 1/2 terdahulu karena merupakan harta bersama dengan pasangan yang hidup terlebih lama setelah itu sisanya dibagi kepada ahli waris dari pewaris.
    2. Penggantian kedudukan ahli waris (Bijplaatsvervulling) atau pengganti ahli waris kepada keturunan langsung secara garis lurus ke bawah sampai derajat yang tidak dibatasi, jika ahli waris telah meninggal dahulu sebelum pewaris meninggal dunia.
    3. Anak dalam kandungan, anak diluar kawin yang diakui secara sah, serta isteri kedua dan seterusnya mempunyai hak yang sama dengan ahli waris golongan I.
  • Terdapat prinsip-prinsip dalam Waris Islam yaitu:
  1. Pembagian Waris Islam diberlakukan untuk Warga Negara Indonesia yang beragama Islam.
  2. Anak LK mendapat bagian yang lebih besar daripada anak PR.
  3. Pembagian kelompok ahli waris:
  • Dzulfaraid: bagian pasti untuk ahli waris yang harus dikeluarkan dahulu, setelah itu dihitung bagian ahli waris lainnya;
  • Ashabah: ahli waris yang mendapatkan sisa pembagian waris, setelah pembagian dzulfaraid telah dikeluarkan;
  • Dzularham: kerabat jauh baru mendapat bagian apabila dzulfaraid dan
  1. Janda/duda mendapatkan 1/2 bagian terlebih dahulu dari total harta bersama dalam perkawinan (pasal 190 KHI). Setelah dikeluarkan 1/2 bagian dari harta bersama, baru sisanya dibagikan kepada seluruh ahli waris sesuai dengan aturan.
  2. “Orang Islam tidak dapat mewarisi orang kafir dan orang kafir tidak dapat mewarisi orang Islam.” (HR. Bukhari-Muslim).
  3. Jika pewaris memiliki isteri lebih dari 1 orang, masing-masing isteri yang dinikahi secara sah memiliki hak yang sama atas harta gono-gini dengan pewaris (Pasal 190 KHI).

[1] Irma Devita, Hukum Waris

[2] Kompilasi Hukum Islam Buku II Pasal 190

Recent Posts

Send this to a friend