HAK WARIS ANAK DARI AYAH ATAU IBU TIRI

 In Articles

Gianvilla Erry Chandra A.D.H., S.H.

      Hak waris pada dasarnya merupakan suatu hak yang diperoleh ahli waris ketika salah satu orang tua meninggal dunia, ketentuan tentang waris pada dasarnya diatur di dalam KUHPerdata (KUHPer), Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (UU Perkawinan) dan Kompilasi Hukum Islam (KHI). Aturan-aturan tersebut tentunya memiliki pembagiannya masing-masing, secara umum pembagian hak waris berdasarkan aturan KUHPer terbilang lebih pro rata dibandingkan pembagian melalui KHI.

Ahli waris seyogyanya adalah keturunan sedarah atau keturunan-keturunan yang dianggap termasuk ke dalam golongan ahli waris berdasarkan aturan yang berlaku, namun bagaimana aturan hak waris terhadap anak tiri. Yang seperti kita ketahui bahwa anak tiri merupakan anak bawaan dari salah satu pihak suami atau istri ke dalam suatu perkawinan baru. Apakah anak bawaan/tiri tersebut dapat menerima warisan dari orang tua tiri yang sudah meninggal?

Dalam hal ini penulis perlu memberikan contoh kasus guna menghindari keraguan/kesimpang siuran penafsiran, sebagai contoh:

Seorang perempuan bernama laura menikahi seorang laki-laki bernama ujang, dalam pernikahannya dikaruniai seorang anak bernama rizky, selang beberapa lama ujang meninggal dan laura menikahi lelaki lain bernama reffy, disini rizky merupakan anak bawaan dari laura dan reffy sebagai ayah tiri, dalam pernikahannya laura dan reffy dikaruniai anak bernama aulina dan setelah beberapa tahun reffy meninggal dunia, apakah rizky mempunyai hak waris dari reffy?

Berdasarkan contoh kasus di atas perlu untuk ditekankan bahwa Rizky merupakan anak bawaan dari Laura, maka Rizky merupakan anak tiri dari Reffy yang telah meninggal, tentu dengan meninggalnya ayah tiri Rizky secara otomatis juga meninggalkan harta-harta yang perlu untuk dibagikan, apakah anak tiri tersebut berhak atas bagian harta tersebut?

Jika ditinjau dari segi KUHPer pasal 852 yang menyatakan bahwa, “anak-anak atau keturunan-keturunan, sekalipun dilahirkan dari berbagai perkawinan, mewarisi harta peninggalan para orang tua mereka, kakek dan nenek mereka, atau keluarga-keluarga sedarah mereka selanjutnya dalam garis lurus ke atas, tanpa membedakan jenis kelamin atau kelahiran yang lebih dulu”

Kesimpulannya bahwa anak tiri bukan merupakan anak sedarah, maka Rizky di sini tidak mempunyai hak sama sekali atas harta warisan peninggalan ayah tirinya dikarenakan Rizky bukan termasuk golongan ahli waris. Selain itu hal ini diperkuat dengan Pasal 171 KHI dan pasal 55 UU Perkawinan yang pada dasarnya anak tiri dan orang tua tiri tidak dapat saling mewarisi dikarenakan tidak memiliki hubungan sedarah. Bahwa Pasal 171 KHI mengatur tentang batasan-batasan sebab pewarisan yaitu:

  1. Sebab kekerabatan (Qarabah)
  2. Sebab perkawinan (mushaharah), yaitu antara mayit dengan ahli waris ada hubungan perkawinan. Maksudnya adalah, perkawinan yang sah menurut Islam, bukan perkawinan yang tidak sah, dan perkawinan yang masih utuh (tidak bercerai).
  3. Sebab memerdekakan budak (wala`).

Maka, secara hukum positif bahwa Laura sebagai ibu kandung Rizky sajalah yang berhak terhadap warisan ayah tiri yakni Reffy dikarenakan Laura telah melakukan perkawinan yang terdaftar serta memiliki keturunan bernama Aulina. Maka berdasarkan KUHPerdata Laura mendapatkan ½ (setengah) dari harta warisan, ditambah ½ dari ½ hak waris yang diberikan kepada Aulina sebagai anak kandung dari Laura dan Reffy.

Adapun jalur alternatif sebagai anak tiri agar mendapatkan bagian harta waris adalah melalui Hibah Wasiat yang dilakukan oleh Ayah Tiri Rizky dengan persyaratan bahwa harta warisan ayah tiri yang akan diwasiatkan kepada anak tiri tidak lebih besar dari 1/3 (sepertiga) namun jika wasiat yang diberikan lebih dari 1/3 (sepertiga) perlu adanya persetujuan dari para ahli waris.

Recent Posts

Send this to a friend