PERLUKAH AHLI WARIS MEMBUAT PUTUS WARIS, KETIKA SI PEWARIS BANYAK HUTANG?

 In Articles

Gianvilla Erry Chandra A.D.H., S.H.

Dalam hal ini penulis akan menggunakan hukum waris islam, Hukum waris dalam islam merupakan ketentuan yang “wajib” dijalankan oleh orang yang beragama islam. Yang dimaksud “wajib” di sini merupakan asas dasar dari hukum waris islam yang bersifat “memaksa” yang biasa dikenal dengan istilah Ijbari. Berdasarkan hukum islam hubungan antara pewaris dan ahli waris adalah pasti/wajib sepanjang tidak ada yang menghalangi hubungan kedua pihak tersebut. Contoh hal yang menghalangi hubungan antara pewaris dan ahli waris yaitu berdasarkan Pasal 173 Kompilasi Hukum Islam (“KHI”) adalah :

  1. Dipersalahakan telah membunuh pewaris atau mencoba membunuh;
  2. Menganiaya berat pewaris;
  3. Ahli waris melakukan fitnah terhadap pewaris dan melaporkan pewaris sehingga pewaris diancam dengan hukuman 5 (lima) tahun penjara atau hukuman yang lebih berat.

Menurut salah satu ahli hukum yaitu Prof. H. Mohammad Daud Ali, S.H. di dalam bukunya yang berjudul Hukum Islam mengutip pendapat dari Ami Syarifuddin bahwa asas Ijbari adalah peralihan harta dari seorang yang telah meninggal dunia kepada si ahli waris merupakan perkara yang berlaku dengan sendirinya berdasarkan ketetapan Allah SWT tanpa digantungkan kepada kehendak pewaris atau ahli warisnya. Terdapat unsur “memaksa” sehingga dalam hukum waris islam, baik pewaris maupun ahli waris tidak mempunyai kewenangan apapun untuk menghalang-halangi penerimaan harta peninggalan si pewaris sesuai dengan jumlah yang telah ditentukan Allah SWT di luar kehendaknya sendiri.

Dapat diartikan bahwa berdasarkan ketentuan di atas, putus waris tertulis bukan merupakan hal yang dapat menghalangi penerimaan waris oleh si ahli waris. Putus waris tertulis juga bukan merupakan suatu ketentuan yang ditetapkan dalam hukum waris islam dan tidak dikenal/diakui di dalam hukum waris islam. karena sifat hukum waris islam itu sendiri adalah “memaksa”.

Ahli waris tidak perlu khawatir jika pewaris memiliki banyak hutang karena tanggungjawab ahli waris hanya sebatas jumlah harta peninggalan pewaris saja. Dengan demikian, ketentuan tersebut telah di atur di dalam KHI mengenai tanggung jawab ahli waris terhadap hutang pewaris yakni hanya terbatas pada jumlah atau nilai harta peninggalannya. Adapun ketentuan tersebut terdapat di dalam pasal 175 KHI yang menyebutkan:

  1. Kewajiban ahli waris terhadap pewaris adalah:
    1. mengurus dan menyelesaikan sampai pemakaman jenazah selesai;
    2. menyelesaikan baik hutang-hutang berupa pengobatan, perawatan, termasuk kewajiban pewaris maupun penagih piutang;
    3. menyelesaikan wasiat pewaris;
    4. membagi harta warisan di antara wahli waris yang berhak.
  2. Tanggung jawab ahli waris terhadap hutang atau kewajiban pewaris hanya terbatas pada jumlah atau nilai harta peninggalannya.

Kesimpulan dari pasal 175 KHI tersebut adalah bahwa kewajiban ahli waris terhadap hutang pewaris terbatas pada jumlah atau nilai harta peninggalannya saja. Jika diketahui bahwa pewaris memiliki banyak hutang dalam jumlah yang cukup besar, maka hutang tersebut tidak dapat dibebankan kepada ahli waris, melainkan hutang tersebut dapat dibayarkan oleh pewaris sebatas berapa banyak nilai harta pewaris yang ditinggalkan, sehingga jika seluruh harta kekayaan pewaris juga tidak mencukupi untuk menutup hutang pewaris, hutang tersebut tetap dianggap selesai dan pihak penagih piutang tidak dapat menuntut/menggangu gugat harta pribadi si ahli waris.

Recent Posts

Send this to a friend