Mengenal One-Tier (Unitary) Model of Corporate Governance

 In Articles

Kenny Wiston

Under a unitary board structure there is a single board of directors, comprising executive and non-executive directors (NEDs)… the management (operating) board which is responsible for the day-today running of the business, consisting of executives only and led by the chief executive. The one tier board is a model in which the board of directors functions as a collectively appointed corporate body. In other words, the one tier board includes top management team (e.g., Chief Executive Officer, Chief Financial Officer) whose role is to manage the company on a daily basis and non-executive directors who are supposed to fulfill the oversight and monitoring functions.

Dalam dunia korporasi sering ditemukan istilah one-tier system dan two-tier system.

One-tier systems banyak dipakai di negara anglo-saxon seperti US, UK, Canada dan Australia. Sedangkan two-tier system banyak dipakai di negara Eropa daratan seperti Jerman, Belanda. Indonesia termasuk menganut sistem two-tier.

Dalam one-tier system, peran dewan komisaris (pengawas) dan peran dewan direksi (pelaksana/eksekutif) dijadikan dalam satu wadah/organ. Wadah ini disebut board of director (BOD).  Penyatuan ini membuat tidak jelasnya peran dari pengawas dan pelaksana.

Sedangkan di dalam two-tier system, peran dewan komisaris dan dewan direksi dipisah secara jelas. Dewan komisaris akan mengawasi kerja dewan direksi.

One-Tier Board System

Dalam one-tier board system, keseluruhan wewenang pelaksanaan fungsi suatu perusahaan atau organisasi dilaksanakan oleh satu board atau dewan yang lazim disebut sebagai board of directors. Beberapa perusahaan atau organisasi sering juga menyebutnya dengan board of governors atau board of commissioners. Pada sistem ini, board of directors berfungsi menetapkan kebijakan, melaksanakan kegiatan operasional, dan sekaligus melakukan pengawasan atau monitoring.

Di dalam model ini, ada empat tipe struktur board:
1. Semua direktur eksekutif adalah anggota board. Top managers adalah juga anggota board. ini banyak ditemukan pada perusahaan kecil, perusahaan keluarga dan start-up business.
2. Mayoritas anggota board adalah direktur eksekutif. Di struktur ini ada direktur non-eksekutif dalam board namun jumlahnya sedikit (minoritas)
3.Mayoritas adalah direktur non-eksekutif. Sebagian besar dari direktur non-eksekutif ini adalah direktur independen.
4. Semua non-eksekutif direktur adalah anggota board.  Banyak ditemukan dalam organisasi non-laba. Struktur ini hampir mirip dengan struktur two-tier Eropa.

Untuk two-tier corporate governance system, struktur yang ada ialah terdiri dari dua board:
1. Dewan pengawas (supervisory board). Ini terdiri dari direktur non-eksekutif independent dan direktur non-eksekutif tidak independent (connected).
2. Dewan pelaksana (executive board). Ini terdiri dari semua direktur pelaksana spt. CEO, CFO, COO, CIO (C-level management).

Bagi kita yang terbiasa dengan two-tier board system, sistem ini dipandang kurang memperhatikan pemisahan wewenang dan tanggung-jawab karena ketiga fungsi utamanya dilaksanakan oleh satu dewan. Namun jika ditilik lebih dalam, sebenarnya dalam internal board of directors tersebut terdapat pembagian wewenang dan tanggung-jawab.

Pengambilan kebijakan merupakan kewenangan board of directors sebagai satu kesatuan dewan sehingga semua anggota board of directors dapat berpartisipasi dalam melaksanakan fungsi tersebut. Seringkali konsep kesatuan dalam pengambilan keputusan dan pertanggung-jawaban tersebut disebut sebagai kolektif kolegial. Dalam pelaksanaan kegiatan operasional ditunjuk satu atau beberapa anggota board of directors yang disebut sebagai executive director(s).

Sedangkan pelaksanaan fungsi monitoring dan pengawasan dilakukan oleh beberapa anggota board of directors lainnya yang disebut non-executive directors (NEDs). NEDs pada umumnya bekerja secara paruh waktu (part time). Komposisi jumlah anggota executive directors dan non-executive directors bervariasi tergantung pertimbangan dan kepentingan perusahaan atau organisasinya, tetapi pada umumnya executive directors berjumlah lebih sedikit.

Pemegang saham atau board of directors memilih salah satu anggota non-executive directors menjadi Chairman atau sering pula disebut sebagai President. Sedangkan satu atau salah satu anggota executive directors ditetapkan menjadi Chief Executive Officer (CEO). Dalam prakteknya terdapat perbedaan penerapan dalam penetapan Chairman dan CEO tersebut.

Di Amerika Serikat, seorang Chairman biasanya sekaligus ditunjuk juga menjadi CEO yang kemudian memunculkan sebutan Executive Chairman. Sedangkan di Inggris, pada umumnya seorang CEO tidak diperbolehkan merangkap jabatan sebagai Chairman, sehingga kedua jabatan tersebut harus diamanatkan pada orang yang berbeda.

Two-Tier Board System

Sedangkan dalam two-tier board system terdapat dua dewan yang terpisah, satu dewan yang bertanggung-jawab menetapkan kebijakan dan mengelola operasional perusahaan (management board) dan satu dewan lainnya yang melakukan fungsi monitoring dan pengawasan (supervisory board). Pada dasarnya, management board merupakan executive directors sedangkan supervisory board merupakan non-executive directors. Pemisahan fungsi penetapan kebijakan dan pelaksanaan operasional dengan fungsi monitoring dan pengawasan tersebut dimaksudkan untuk menghindari benturan kepentingan yang diharapkan akan dapat memberikan hasil yang lebih baik.

Pros and Cons of a One-Tier Board System

  • Keterlibatan non-executive directors: Karena the executive and non-executive directors secara bersama-sama terbentuk dalam satu organ perseroan, maka hal tersebut berdampak positif terhadap pembagian tanggungjawab; this may have a positive influence on the directors’ sense of shared responsibility; keterlibatan dan peran the non-executive directors’ dalam operasional perusahaan lebih beasr.
  • Proses Ketentuan Informasi: lebih cepat dan sederhana terhadap informasi dan komunikasi manajemen dan pengawasan sehari-hari.  Namun keterlibatan berlebih the non-executive directors memiliki kelemahan seperti kurangnya independensi dalam menjalankan perseroan terhadap the executive directors.
  • Tanggungjawab Tanggung Renteng: karena merupakan satu organ yang tidak terpisah dari the executive directors maka tanggung jawab non-the executive directors secara tanggung renteng .
  • Pengambilan Keputusan yang lebih cepat: tidak membutuhkan persetujuan organ terpisah (komisaris) sehingga keputusan yang akan diambil dapat lebih cepat dan hanya melewati satu organ saja.

KESIMPULAN

Pada praktiknya sering dijumpai dalam Two-Tier System, penetapan kriteria dan pelaksanaan proses pemilihan supervisory boards pada umumnya kurang jelas dan tidak transparan sehingga seringkali justru akan menghasilkan sistem pengawasan yang tidak efektif dan dapat menyebabkan tata kelola yang kurang baik. Berkaca pada hal tersebut, saat ini terdapat kecenderungan perusahaan atau organisasi mulai mengkaji atau menerapkan one-tier board system.

 

 

Recent Posts

Send this to a friend